Rabu, 27 Juni 2012

TAHNIK :

Dari Anas bin Malik rodhiyallohu’anhu, ia berkata,

“ Aku berangkat membawa Abdullah bin Abu Thalhah kepada Rosululloh Shalallohu’Alaihi Wassalam ketika hari kelahirannya. Sampailah aku kepada Baginda Nabi. Waktu itu Beliau mengenakan mantel ketika sedang melumuri untanya dengan ter. Maka Beliau berkata kepadaku : “Apakah engaku membawa kurma?” dan aku berkata : “ ya”. Lalu Beliau mengambil tamr (kurma) itu dan memasukannya ke mulut Beliau, lalu Beliau menguyahnya (hingga lumat) dan mentahniknya. Maka bayi itu membuka mulutnya lalu Nabi mengeluarkan sisa tamr yang masih ada dalam mulut Beliau dengan memasukananya ke dalam mulut bayi itu. Maka bayi itu pun menjilat-jlat dengan lidahnya. Berkata Rosululloh : “orang-orang Anshar enggan keculai pasti mencintai kurma”. Dan Beliau menamai bayi itu Abdullah.

(dikekuarkan oleh Imam Bukhari 5470 Al-fath, Imam muslim 2114-Imam Nawawi, Imam Abu dawud 4951, dan Imam Ahmad 3/105-106 dan lafadz hadist ini ada pada beliau Imam Baihaqi di dalam Asy-Syu’ab 8631).

Makna Jilbab dan Cadar

oleh Bunga Edelweiss pada 17 Januari 2012 pukul 10:53 ·
 
Bismillah,
Kuulurkan jilbabku hingga terasa damai hatiku...
Kulonggarkan pakaianku sehingga tertutup bentuk tubuhku…
kuLakukan itu semua demi Cintaku pada Rabb-Ku…
Dan kuberbisik dalam hatiku, semoga Engkau bahagia melihatku…

Itulah isi hatiku...
Inilah ketakutanku....

Hadits arba'in nawawi ke-37. PAHALA KEBAIKAN.

Dari ibnu abbas radiyallahu anhuma, dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang beliau riwayatkan dari Rabbnya Tabaaraka wa Ta'alaa, "Sesungguhnya Allah telah menetapkan nilai kebaikan dan kejahatan, kemudian menerangkannya. Barangsiapa bermaksud mengerjakan kebaikan kemudian tidak jadi mengerjakannya, maka Allah mencatatnya sebagai satu kebaikan yang sempurna. Dan jika ia bermaksud mengerjakan kemudian benar2 mengerjakannya, maka Allah mencatat nilai kbaikan itu 10x sampai 700x lipat, bahkan berlipat ganda lagi. Dan jika ia bermaksud melakukan kejahatan, tetapi ia tidak jadi mengerjakannya, maka Allah mencatat disisi-NYA satu kebaikan yang sempurna. Dan jika ia bermaksud mengerjakan kejahatan, lalu benar2 mengerjakannya, maka Allah mencatat baginya satu kejahatan."
(HR.bukhari muslim dlm 2 kitab shahihnya dg lafal speti ini)
Jika tidak sekarang,,, mungkin nanti ....

Jika tidak di dunia,,, Insya Allaah di akhirat ....

-----------------------------------

tentang apakah ? tafaddhal dijawab dg ilmiyah
Jawab : do'a
karena setiap doa itu pasti dikabulkan oleh Allah, hanyasaja cara Alllah mengabulkan doa itu ada tiga cara,

::Langsung dikabulkan ketika masih di sunia,

::dikabulkan Allah ketika di Akhirat

::dihindarkan dari kebalikan doanya (Misalnya, pengen nambah anak lagi, tapi anak yang pertama selamat dari kecelakaan maut)
~ BERDOA DENGAN MENGANGKAT TANGAN ~

Oleh
Ismail bin Marsyud bin Ibrahim Ar-Rumaih

Mengangkat tangan dalam berdoa merupakan etika yang paling agung dan memiliki keutamaan mulia serta penyebab terkabulnya doa.

Dari Salman Al-Farisi Radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

"Artinya : Sesungguhnya Rabb kalian Maha Hidup lagi Maha Mulia, Dia malu dari hamba-Nya yang mengangkat kedua tangannya (meminta-Nya) dikembalikan dalam keadaan kosong tidak mendapat apa-apa". [Sunan Abu Daud, kitab Shalat bab Doa 2/78 No.1488, Sunan At-Tirmidzi, bab Doa 13/68. Musnad Ahmad 5/438. Dishahihkan Al-Albani, Shahih Sunan Abu Daud].
Akhir Waktu Shalat Isya

Tanya:
kapan batas akhir boleh dilakukannya sholat isya? benarkah smapai fajar ?
abu abdillah rudi [udikhaeyatno@yahoo.com]

Jawab:

Ada 3 pendapat di kalangan ulama mengenai akhir waktu shalat isya:
1. Akhir waktunya adalah 1/3 malam pertama.
Ini adalah pendapat Umar bin Al-Khaththab dan Abu Hurairah dari kalangan sahabat, Umar bin Abdil Aziz, dan salah satu pendapat Asy-Syafi’i.
Mereka berdalil dengan hadits Abu Musa, Buraidah, Jabir, dan Ibnu Abbas radhiallahu anhum yang semuanya menyebutkan bahwa akhir waktunya adalah 1/3 malam pertama.
~ melembutkan hati ~

Pertanyaan :
Syeikh yang mulia, saya merasakan hati saya keras. sehingga saking kerasnya apabila salah seorang kerabatku wafat saya tidak menangis, saya tidak meneteskan air mata kecuali setelah berusaha keras. apakah kerasnya hatiku seperti ini menyebabkan sholatku tidak diterima? begitu juga dengan puasaku dan amalan-amalan lain. dan apakah ini karena kurangnya keimananku y a syeikh yang mulia. Apakah jika saya bersedekah kepada orang-orang fakir bisa melembutkan hatiku?