10 malam terakhir ramadhan
mari bersiap untuk berjumpa dg lailatul qodar..
ia sebobot amalan selama 83tahun.
Rasulullah Shalallhu alaihi wasalam telah memberikan gambaran tentang
tanda-tanda malam Lailatul Qadar. Hal ini beliau sampaikan di beberapa
haditsnya, di antaranya adalah:
Rabu, 08 Agustus 2012
Sabtu, 04 Agustus 2012
#Tawadhu'#
Ust. Nuzul LC
Bakar bin Abdillah berkata: "Apabila engkau melihat orang yang lebih tua umurnya darimu, katakanlah: "Orang ini sudah mendahuluiku dalam beriman dan beramal shalih, ia tentu lebih baik dariku."
Apabila engkau melihat orang yang lebih muda umurnya darimu, katakanlah: "Aku telah mendahuluinya berbuat dosa dan kemaksiatan, tentu ia lebih baik dariku."
Dan apabila engkau melihat sahabat-sahabatmu menghormati dan memuliakanmu, maka katakanlah: "Ini adalah keutamaan yang akan diperhitungkan nanti."
Kalau engkau mereka kurang menghormatimu, maka katakanlah: "Ini adalah akibat dosa yang kuperbuat sendiri."
(Shifatus Shofwah III : 248)
Betapa indahnya nasehat yang diberikan beliau, semoga kita dapat mengikuti akhlak para ulama salaf.
Bakar bin Abdillah berkata: "Apabila engkau melihat orang yang lebih tua umurnya darimu, katakanlah: "Orang ini sudah mendahuluiku dalam beriman dan beramal shalih, ia tentu lebih baik dariku."
Apabila engkau melihat orang yang lebih muda umurnya darimu, katakanlah: "Aku telah mendahuluinya berbuat dosa dan kemaksiatan, tentu ia lebih baik dariku."
Dan apabila engkau melihat sahabat-sahabatmu menghormati dan memuliakanmu, maka katakanlah: "Ini adalah keutamaan yang akan diperhitungkan nanti."
Kalau engkau mereka kurang menghormatimu, maka katakanlah: "Ini adalah akibat dosa yang kuperbuat sendiri."
(Shifatus Shofwah III : 248)
Betapa indahnya nasehat yang diberikan beliau, semoga kita dapat mengikuti akhlak para ulama salaf.
Sikat Gigi Saat Puasa
August 8, 2011
Pertanyaan:
Bolehkah Sikat gigi saat puasa?
Setiono Topandi (XXXXXXndi@XXXXX.com)
Jawaban:
Gosok Gigi Ketika Puasa dan Hukum Memakai Odol
Gosok
gigi dianjurkan dalam setiap keadaan, baik ketika puasa maupun di luar
puasa, baik di pagi hari maupun siang hari. Dalilnya:
Jumat, 03 Agustus 2012
APAKAH SETIAP AMAL YANG TIDAK DILAKUKAN DI JAMAN NABI DISEBUT BID'AH ?
Ada dua pendapat ’ekstrim’ terkait dengan bahasan ini.
Satu pendapat mengatakan bahwa segala sesuatu yang tidak dikerjakan di
jaman Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam tidak bisa disebut bid’ah. Ini
tergantung niat atau bentuknya. Jika niat atau bentuknya (mereka anggap)
baik, maka jadilah ia bid’ah yang baik (bid’ah hasanah). Bisa
dikatakan, tidak ada kamus bid’ah dalam bahasa syari’at mereka. Pendapat
ini dianut oleh kebanyakan penggemar bid’ah.
tentang "Nawaitu shaumal ghadin dst...dst.."...
CATET INI......!!
Biar nanti kalau anak cucu kita bertanya, kita bisa memberikan penjelasan kepada mereka
Mungkin diantara kita bertanya2, jika niat puasa "Nawaitu shaumal ghadin ..dst..dst " itu tidak ada contohnya dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, maka sebenarnya lafazh niat ini darimana asal usulnya?
Nah, perlu di ketahui, bahwa mayoritas umat islam di negri kita adalah mengaku bermazhab Syafi'i, sehingga sejak dulu mereka (para thullabnya) membaca kitab2 ulama yang konon katanya bermazhab syafi'i, tanpa mau melihat lagi apakah ajaran ulama tsb sesuai dalil yang shahih atau malah menyelisihi dalil yang shahih.
Asal usul niat puasa "Nawaitu shaumal ghaddin 'an adaa'i fardhi romadhoni hadzhissanati lillahi ta'ala", salah satunya berasal dari Muhammad bin Qassim Al-Ghazi, seorang ulama bermazhab Syafi'i,
Ia berkata dalam kitabnya Fathul Qarib Mujib:
ويجب التعيين في صوم الفرض كرمضان، وأكمل نية صومه أن يقول الشخص نويت صوم غد عن أداء فرض رمضان هذه السنة لله تعالى
"Wajib Ta’ayin niat pada puasa fardhu seperti ramadhan, sedangkan sempurnanya niat puasa jika di katakan “Nawaytu shauma ghaddin 'an adaa'i fardhi romadhoni hadzhissanati lillahi ta'ala”.
[Fathul Qarib Mujib, Bab Kitab Bayan Ahkami Shiyam ]
Nah,
Ternyata ajaran serupa juga terdapat pada kita fiqh Syafi'iyyah lainnya seperti Nihyatul Muhtaj, karya Syihabudin Ar Ramliy.
Allahul musta'an.
CATET INI......!!
Biar nanti kalau anak cucu kita bertanya, kita bisa memberikan penjelasan kepada mereka
Mungkin diantara kita bertanya2, jika niat puasa "Nawaitu shaumal ghadin ..dst..dst " itu tidak ada contohnya dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, maka sebenarnya lafazh niat ini darimana asal usulnya?
Nah, perlu di ketahui, bahwa mayoritas umat islam di negri kita adalah mengaku bermazhab Syafi'i, sehingga sejak dulu mereka (para thullabnya) membaca kitab2 ulama yang konon katanya bermazhab syafi'i, tanpa mau melihat lagi apakah ajaran ulama tsb sesuai dalil yang shahih atau malah menyelisihi dalil yang shahih.
Asal usul niat puasa "Nawaitu shaumal ghaddin 'an adaa'i fardhi romadhoni hadzhissanati lillahi ta'ala", salah satunya berasal dari Muhammad bin Qassim Al-Ghazi, seorang ulama bermazhab Syafi'i,
Ia berkata dalam kitabnya Fathul Qarib Mujib:
ويجب التعيين في صوم الفرض كرمضان، وأكمل نية صومه أن يقول الشخص نويت صوم غد عن أداء فرض رمضان هذه السنة لله تعالى
"Wajib Ta’ayin niat pada puasa fardhu seperti ramadhan, sedangkan sempurnanya niat puasa jika di katakan “Nawaytu shauma ghaddin 'an adaa'i fardhi romadhoni hadzhissanati lillahi ta'ala”.
[Fathul Qarib Mujib, Bab Kitab Bayan Ahkami Shiyam ]
Nah,
Ternyata ajaran serupa juga terdapat pada kita fiqh Syafi'iyyah lainnya seperti Nihyatul Muhtaj, karya Syihabudin Ar Ramliy.
Allahul musta'an.
~Abu Ayaz~ JyL
.. Syari'at & Takdir ..
Allah Ta’ala telah mewajibkan bagi kita syariat-Nya dan memerintahkan
kita dengan syariat tersebut. Sehingga yang tersisa bagi kita hanya ada
dua pilihan.
Pertama, kita berprasangka baik bahwa Allah. Dia
telah menetapkan takdir yang baik bagi kita dan menakdirkan kita sebagai
penghuni surga. Sebagaimana yang kita ketahui bahwasanya rahmat-Nya itu
mendahului kemarahan-Nya, ridha-Nya lebih Dia kedepankan dari pada rasa
kebencian-Nya. Tempuhlah takdir yang demikian! Berlakulah dengan
perbuatan layaknya calon penghuni surga. Setiap orang akan dimudahkan
menuju takdirnya.
Kedua, kita
berprasangka buruk kepada Allah Ta’ala. Dia akan memasukkan kita ke
neraka dan kita memilih jalan-jalan yang mengantarkan kita ke neraka,
wal’iyadzbillah.
Inilah keimanan kita terhadap takdir Allah
yang merupakan salah satu dari rukun iman yang enam. Jangan sampai
karena permasalahan ini tidak terjangkau oleh akal kita atau karena kita
belum memahaminya, kemudian kita lebih mendahulukan berburuk sangka
kepada Allah. Allahu a’lam
Disadur dari: islamqa.com
status fb _ NChan
Kedua, kita berprasangka buruk kepada Allah Ta’ala. Dia akan memasukkan kita ke neraka dan kita memilih jalan-jalan yang mengantarkan kita ke neraka, wal’iyadzbillah.
Inilah keimanan kita terhadap takdir Allah yang merupakan salah satu dari rukun iman yang enam. Jangan sampai karena permasalahan ini tidak terjangkau oleh akal kita atau karena kita belum memahaminya, kemudian kita lebih mendahulukan berburuk sangka kepada Allah. Allahu a’lam
Disadur dari: islamqa.com
::Miliki Rasa Harap (raja’) dan Takut (khauf)::
Sudah seharusnya bagi seorang muslim untuk memiliki rasa harap (raja’)
dan takut (khauf) dalam dirinya. Yaitu senantiasa berharap atas rahmat
Allah dan tidak berputus asa darinya, dan senantiasa takut akan
datangnya adzab dan siksa Allah ta’ala. Bagaimana selayaknya
menyeimbangkan antara kadar harap (raja’) dan takut (khauf) pada diri
seseorang? Berikut uraian singkat mengenai masalah tersebut. -dinukil
dari Buku Mutiara Faidah Kitab Tauhid -
Sudah seharusnya bagi seorang muslim untuk memiliki rasa harap (raja’)
dan takut (khauf) dalam dirinya. Yaitu senantiasa berharap atas rahmat
Allah dan tidak berputus asa darinya, dan senantiasa takut akan
datangnya adzab dan siksa Allah ta’ala. Bagaimana selayaknya
menyeimbangkan antara kadar harap (raja’) dan takut (khauf) pada diri
seseorang? Berikut uraian singkat mengenai masalah tersebut. -dinukil
dari Buku Mutiara Faidah Kitab Tauhid -
Langganan:
Postingan (Atom)